FISELLA® MEDIANET - Artikel Musik | Media Partner Musik | Magang Musik | Music Crowdfunding Platform

X

X

abc

Video

Minggu, 01 Februari 2026

Fenomena Hip-Dut: Ketika Hip-Hop “Dikendangin” dan Diterima 3 Generasi


Belakangan ini, industri musik Indonesia diramaikan oleh fenomena Hip-Dut, sebuah gaya bermusik yang diperkenalkan oleh generasi muda dan dengan cepat diterima oleh Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha. Nama Tenxi, Naykila, dan Jemsi menjadi sorotan utama karena karya-karya mereka viral di berbagai platform digital dan berhasil menembus batas selera lintas usia.

Minggu, 25 Januari 2026

Captain Hue & Friends, Merilis Karya Musik & Video Animasi Bertema Menyikat Gigi

Captain Hue & Friends, Animasi Lagu Anak Indonesia Merilis Karya Musik & Video Bertema Menyikat Gigi

Industri konten anak di Indonesia kembali menghadirkan karya segar dan edukatif. Kali ini datang dari Captain Hue & Friends, sebuah animasi lagu anak asal Indonesia yang resmi merilis karya musik sekaligus video animasi bertema menyikat gigi. Animasi berjudul “Brush Your Teeth Song for Kids | The Toothbrush Song | Captain Hue & Friends” ini resmi dirilis pada 22 Januari 2026, dan langsung menyorot perhatian sebagai konten edukatif anak buatan kreator lokal.

Minggu, 18 Januari 2026

Hak Cipta Lagu Dilindungi Hingga 70 Tahun Setelah Pencipta Wafat



Hak cipta lagu adalah aspek hukum yang sangat penting dalam industri musik. Sayangnya, masih banyak musisi, kreator konten, hingga pelaku usaha yang belum memahami secara utuh berapa lama hak cipta lagu berlaku dan kapan sebuah lagu menjadi public domain. Padahal, pemahaman ini sangat krusial untuk menghindari pelanggaran hukum dan masalah royalti.

Kamis, 01 Januari 2026

Pengumuman Kantor Baru Fisella®


Sehubungan dengan perkembangan layanan dan ekspansi bisnis, Fisella® di bawah naungan PT Inspira Mandala Arthaprasada mengumumkan bahwa terhitung mulai 1 Januari 2026, kantor pusat Fisella® resmi pindah lokasi ke alamat baru berikut:

Sabtu, 20 Desember 2025

FL Studio Web Version: Produksi Musik Bisa Langsung Lewat Browser

 

Image-Line kembali menarik perhatian dunia music production dengan mengumumkan FL Studio Web, versi berbasis browser dari DAW legendaris FL Studio. Melalui inovasi ini, pengguna dapat membuat musik langsung dari browser tanpa perlu menginstal software di komputer. Langkah ini dinilai sebagai upaya serius Image-Line untuk memperluas akses produksi musik, khususnya bagi pemula.

Rabu, 17 Desember 2025

Kisah Kematian Komposer Era Klasik yang Jarang Diketahui: Haydn, Mozart, dan Beethoven



Nama Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven adalah tiga pilar utama dalam sejarah musik klasik Barat. Karya-karya mereka masih dipelajari di sekolah musik, dimainkan di konser dunia, dan menjadi fondasi teori musik modern. Namun, di balik kejayaan musikal tersebut, kisah kematian para komposer klasik ini menyimpan fakta-fakta yang jarang diketahui publik.

Artikel ini membahas siapa mereka secara singkat, lalu mengungkap sisi gelap dan unik dari akhir hidup masing-masing.


1. Joseph Haydn – Komposer Besar yang Meninggal dalam Kesunyian Perang

Joseph Haydn (1732–1809) dikenal sebagai “Bapak Simfoni” dan “Bapak Kuartet Gesek”. Ia berjasa membentuk struktur musik klasik yang rapi dan sistematis. Haydn hidup lebih lama dibanding Mozart dan Beethoven, dan sempat menikmati ketenaran di Eropa.

Namun, kematian Haydn terjadi dalam situasi yang ironis. Ia meninggal dunia di Wina saat kota tersebut berada di bawah ancaman invasi pasukan Napoleon. Dalam kondisi fisik yang sudah lemah, Haydn kerap memainkan lagu kebangsaannya sendiri (Gott erhalte Franz den Kaiser) di piano sebagai bentuk penghiburan diri.

Fakta yang jarang diketahui: kepala Haydn dicuri setelah kematiannya oleh dua penggemar fanatik teori frenologi (kepercayaan bahwa kejeniusan bisa dilihat dari bentuk tengkorak). Akibatnya, jasad Haydn dimakamkan tanpa kepala selama lebih dari 100 tahun, hingga akhirnya disatukan kembali pada abad ke-20.



2. Wolfgang Amadeus Mozart – Jenius yang Dimakamkan Tanpa Nama

Wolfgang Amadeus Mozart (1756–1791) adalah simbol jenius musik sejak kecil. Ia menciptakan lebih dari 600 karya, termasuk simfoni, opera, musik kamar, dan karya sakral, dalam usia yang sangat singkat.

Mozart meninggal pada usia 35 tahun, namun penyebab kematiannya masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Catatan medis saat itu sangat minim. Beberapa teori menyebutkan demam rematik, gagal ginjal, infeksi streptokokus, bahkan teori konspirasi seperti diracun oleh Salieri—meski teori terakhir ini tidak didukung bukti kuat.

Yang jarang diketahui: Mozart dimakamkan di kuburan massal tanpa nisan. Bukan karena ia miskin ekstrem, melainkan karena kebijakan pemakaman Wina saat itu yang memang mengatur pemakaman sederhana bagi warga biasa. Akibatnya, hingga kini lokasi pasti makam Mozart tidak pernah diketahui.



3. Ludwig van Beethoven – Kematian Tragis Sang Jenius Tuli

Ludwig van Beethoven (1770–1827) adalah jembatan antara era klasik dan romantik. Ia dikenal karena keberanian musikal dan emosi mendalam dalam karyanya, meskipun mengalami tuli total di akhir hidupnya.

Beethoven meninggal setelah bertahun-tahun menderita penyakit kronis. Fakta yang jarang diketahui terungkap dari penelitian modern: rambut Beethoven mengandung kadar timbal yang sangat tinggi. Ini mengarah pada dugaan bahwa ia mengalami keracunan timbal, kemungkinan dari anggur murah atau peralatan medis pada zamannya.

Menariknya, pemakaman Beethoven dihadiri lebih dari 20.000 orang, menjadikannya salah satu pemakaman musisi terbesar di Eropa kala itu—sebuah kontras dengan penderitaan hidupnya.



Penutup

Kematian Haydn, Mozart, dan Beethoven menunjukkan bahwa kejeniusaan tidak selalu berjalan seiring dengan kehidupan yang mudah atau akhir yang damai. Kisah-kisah ini memperlihatkan sisi manusiawi para komposer klasik—rapuh, tragis, dan penuh misteri—yang sering luput dari buku teori musik.

Di balik mahakarya yang abadi, tersimpan cerita kematian yang justru membuat mereka semakin relevan hingga hari ini.

Sabtu, 13 Desember 2025

Kamis, 04 Desember 2025

Captain Hue & Friends: Animasi Lagu Anak dari Indonesia yang Layak Mendunia



Di tengah langkanya animasi anak-anak berkualitas tinggi dari Indonesia, muncul sebuah karya penuh warna dan ceria: Captain Hue & Friends. Serial animasi musik berbahasa Inggris ini memperkenalkan tujuh karakter hewan lucu — Captain Hue si bunglon, Elliot si gajah, Luna si kelinci, Momo si monyet, Toto si kura-kura, Rico si rubah, dan Sunny si anak ayam — semua tampil dalam nuansa ceria, musik riang, dan cerita ramah anak.

Senin, 20 Oktober 2025

Bingung Cara Beli Lisensi Original FL Studio? Sini Fisella Chan Bantu!

 


Masih bingung gimana cara beli lisensi original FL Studio dengan aman, mudah, dan 100% resmi? Tenang aja — sekarang kamu bisa dibantu langsung oleh Fisella®, First FL Studio Education Partner di Indonesia! Kami tahu, banyak yang masih takut salah beli, bingung pakai kartu luar negeri, atau khawatir lisensinya nggak asli. Nah, biar nggak ribet, Fisella Chan siap bantuin kamu langkah demi langkah.


Tentang Fisella®?

Fisella® adalah lembaga kursus musik asal Yogyakarta yang berfokus pada pelatihan FL Studio dan music production. Kami tercatat secara resmi di situs Image Line sebagai First FL Studio Education Partner di Indonesia, artinya Fisella® diakui langsung oleh FL Studio sebagai partner edukasinya — bukan reseller.


💡 Cara Beli Lisensi FL Studio Melalui Fisella

  1. Hubungi admin Fisella
    Kirim email ke halo@fisella.com atau chat langsung lewat WhatsApp ke 085156423270.

  2. Pilih versi FL Studio yang kamu mau
    Sampaikan ke admin apakah kamu ingin beli FL Studio Fruity Edition, Producer Edition, Signature Bundle, atau All Plugins Edition.

  3. Lakukan pembayaran melalui QRIS Fisella®
    Aman, cepat, dan langsung terkonfirmasi oleh tim kami.

  4. Tim Fisella akan bantu proses pembelianmu
    Kami akan membuatkan email baru dengan format namakamu@gmail.com khusus untuk pembelian FL Studio.
    Email ini nantinya akan menjadi milikmu sepenuhnya.

  5. Login ke Dashboard Image Line
    Setelah pembelian selesai, kamu bisa langsung login ke dashboard Image Line untuk mengunduh FL Studio original dan bahkan mengganti email serta password sesuai keinginanmu.


⚙️ Syarat & Ketentuan

Untuk bisa dibantu membeli lisensi, kamu wajib:



❓FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q: Bisa nggak saya dikasih serial lisensinya aja?
A: Nggak bisa. Kami bukan distributor, tapi Education Partner resmi yang membantu pembelian untuk murid kami. Jadi hanya yang terdaftar sebagai murid Kursus FL Studio atau E-Course FL Studio yang bisa kita bantu.

Q: Original nggak lisensinya?
A: 100% ORIGINAL. Ingat, Fisella adalah First FL Studio Education Partner di Indonesia yang bekerja langsung dengan Image Line.

Q: Kalau saya mau beli lisensi aja tanpa ikut kursus, bisa?
A: Nggak bisa. Sesuai ketentuan Image Line, pembelian melalui education partner wajib disertai pembelajaran atau e-course.

Q: Harganya sama nggak dengan yang di website Image Line?
A: Sama persis! Jadi kamu tetap dapat harga resmi, tapi prosesnya lebih mudah dan dibantu langsung oleh tim Fisella.

Selasa, 07 Oktober 2025

Kerjasama Fisella® & Image Line Belgia: Potongan Harga Lisensi FL Studio Original Khusus Murid Fisella®



6 Oktober 2025, Fisella® sebagai Educational Partner & 1st FL Studio Training Center di Indonesia resmi bekerjasama untuk kali kedua dengan Image Line Belgia, perusahaan pengembang software Digital Audio Workstation (DAW) FL Studio. Josh Isaac, Director of Global Brand & Partner Programs FL Studio memberikan kesempatan eksklusif bagi murid kelas Music Production Fisella® untuk membeli lisensi original FL Studio dengan harga promo khusus langsung di website resmi Image Line yang disepakati bersama Peter de Vries, Founder sekaligus Education Business & Technology Development Officer Fisella®.

Jumat, 26 September 2025

Introduction “La Guittara Clasica”: Mini Konser GEMA ISI Yogyakarta




Mahasiswa gitar klasik ISI Yogyakarta  angkatan 2024 yang tergabung dalam KKM Gitar Ekstra Mahasiswa (GEMA) baru saja mengadakan mini konser bertempat di Gedung Rektorat Lama  kampus ISI Yogyakarta. Dalam konser tersebut, para pemain menampilan repertoar dalam beberapa format yakni solo, duo, dan ansambel besar. Meski terbilang cukup singkat, mini konser ini berhasil menyajikan karya-karya manis, termasuk “Batur” karya Steven Dwi Hansen, alumni GEMA ISI Yogyakarta. Antusiasme penonton pun sangat tinggi, beberapa penonton terpaksa berdiri di belakang karena kehabisan kursi. 

Tidak seperti konser lainnya, mini konser ini bertempat di ruang kelas. Bukan tanpa alasan, Ikrom sebagai pembawa acara menjelaskan bahwa pemilihan tempat di ruang lebih kecil bertujuan untuk memberi kesan intimate dan kekeluargaan. Ia pun menjelaskan bahwa tajuk konser yakni Introduction “La Guittara Clasica” dipilih karena konser ini bertujuan untuk memeperkenalkan permainan gitar klasik yang ekspresif, bukan hanya mengutamakan teknik. 



Permainan gitar yang ekspresif dibawakan salah satunya oleh Benita, mahasiswa Prodi Seni Musik. Pada konser kali ini, ia memainkan L’Ulttimo Caffe Insieme karya Simone Iannarieli. Karya ini memiliki durasi yang cukup singkat dan memiliki pengulangan. Sebagai satu-satunya pemain perempuan dalam konser ini, Nita berhasil membawakan karya ini dengan ekspresif. Melalui wawancara ia menjelaskan bahwa dirinya menikmati proses persiapan konser mulai dari latihan hingga tampil di depan penonton. Meski sempat merasa gugup di awal permainan, namun Nita sanggup mengatasinya dengan baik. Nita juga menjelaskan bahwa selama latihan, ia tidak menemukan kendala yang berarti. Nita juga tidak merasa canggung berlatih bersama teman-teman lain meski menjadi satu-satunya pemain perempuan dalam konser ini. 

Penampilan lain yang tidak kalah menarik adalah Fantasie Dramatique karya Napoleon Coste yang dibawakan oleh Yosua, mahasiswa prodi Penciptaan Musik. Karya ini memiliki durasi yang cukup lama karena terdiri dari tiga bagian dan dimainkan seluruhnya oleh Yosua. Yosua memilih repertoar ini karena Fantasie Dramatique dapat dikatakan sebagai masterpiece Napoleon Coste. Karya ini termasuk cukup sulit dimainkan, namun Yosua dapat membawakannya dengan sangat baik. Ia berhasil menguasai teknik yang diperlukan untuk memainkan karya ini. Melalui wawancara, Yosua menjelaskan butuh waktu sekitar 3-4 minggu untuk bisa memainkan karya ini. Ia juga memiliki cara latihan khusus yakni membaca dan menganalisis partitur lebih dulu sebelum memainkan repertoar dalam tempo lambat. Setelah itu, Yosua akan menaikkan tempo hingga sesuai dengan tempo asli dari repertoar. 

Secara keseluruhan, konser GEMA kali ini berlangsung dengan sangat baik. Para pemain menampilkan karya-karya dengan baik dan penonton sangat mengapresiasi hal tersebut. Konser semacam ini sangat bagus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa dan memang sudah seharusnya digelar secara rutin di kampus seni. Bukankah begitu?