FISELLA® MEDIANET: Mixing-Mastering - Artikel Musik | Media Partner Musik | Magang Musik | Music Crowdfunding Platform
Tampilkan postingan dengan label Mixing-Mastering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mixing-Mastering. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2026

Dari Loudness War ke “Ketidakpatuhan” Target Loudness dalam Mastering Modern


Loudness War: 1990-an hingga 2000-an: Fenomena Loudness War sebenarnya sudah memiliki akar sebelum 1990-an, tetapi perkembangannya semakin agresif sejak awal hingga pertengahan 1990-an. Pada periode ini, CD menjadi medium utama dan teknologi digital memungkinkan mastering engineer menggunakan compression dan limiting secara jauh lebih ekstrem.


Salah satu tonggak penting terjadi pada 1994, ketika Waves memperkenalkan L1 Ultramaximizer, digital brickwall limiter dengan teknologi look-ahead. Teknologi seperti ini membuat engineer dapat menekan peak kemudian menaikkan level rata-rata musik tanpa langsung menghasilkan clipping digital.


Memasuki akhir 1990-an dan terutama 2000-an, perlombaan tersebut semakin ekstrem. Penelitian yang dibahas Sound On Sound terhadap ribuan rekaman menunjukkan penurunan crest factor yang sangat jelas sejak sekitar 1990 hingga 2010, sejalan dengan meningkatnya penggunaan compression dan limiting.


Mengapa musik dibuat semakin keras? Salah satu alasannya sederhana: musik yang lebih keras dianggap lebih menarik perhatian ketika dibandingkan secara langsung. Label, musisi, dan engineer memiliki insentif untuk membuat sebuah rilisan terdengar lebih “besar”, “punchy”, dan kompetitif dibandingkan rilisan lain. Namun konsekuensinya adalah transien dapat semakin tertekan dan karakter  dinamis musik berubah.


Puncak Loudness War: 2000-an

Era 2000-an sering dianggap sebagai salah satu puncak Loudness War. Salah satu contoh terkenal adalah Metallica – Death Magnetic (2008), yang menjadi simbol ekstremnya praktik loud mastering pada era tersebut. Bahkan perbandingan historis menunjukkan bahwa album tersebut memiliki dynamic range yang sangat rendah dibandingkan rilisan Metallica sebelumnya.

Dengan demikian, 1990-an hingga akhir 2000-an dapat disebut sebagai periode utama Loudness War modern.


Sekitar 2010-an: "Fenomena Loudness War Is Over?"

Memasuki 2010-an atau kira-kira 2015-2017-an di Indonesia, industri musik mengalami perubahan besar: konsumsi musik berpindah dari CD dan download menuju streaming. Platform streaming mulai menerapkan loudness normalization. Konsekuensinya sangat penting: jika sebuah master dibuat jauh lebih keras daripada master lain, platform dapat menurunkan levelnya ketika diputar.

Spotify, misalnya, saat ini menyesuaikan playback normal ke sekitar -14 dB LUFS. Yang penting, normalisasi dilakukan saat playback, bukan dengan mengubah file master yang diunggah. Perubahan ini menghilangkan sebagian keuntungan dari strategi Loudness War.

Jika master A berada di -8 LUFS dan master B di -14 LUFS, Spotify dapat menurunkan master A ketika diputar. Maka, membuat lagu lebih keras tidak otomatis membuatnya terdengar lebih keras kepada pendengar. Dari sinilah muncul pernyataan: “The Loudness War is over.” Namun sebenarnya, kalimat tersebut terlalu sederhana.


2020-an: Target -14 LUFS Bukan Hukum

Sadar atau tidak, fenomena baru yang lebih menarik muncul. Banyak orang menganggap -14 LUFS adalah aturan mastering untuk Spotify. Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Spotify memang memberikan rekomendasi untuk menargetkan -14 LUFS integrated, tetapi juga menjelaskan bahwa master yang lebih keras tetap dapat dikirim. Bahkan Spotify memberikan panduan berbeda untuk master yang lebih keras, termasuk rekomendasi menjaga True Peak di bawah -2 dB untuk mengurangi risiko distorsi tambahan ketika encoding. Akibatnya, pada era 2020-an hingga sekarang, seorang musisi dapat dengan sengaja memilih master -10, -9, atau bahkan -8 LUFS tanpa berarti ia “salah”.

Mengapa? Karena LUFS bukan satu-satunya pertimbangan artistik.

Master yang lebih keras biasanya melibatkan compression dan limiting yang lebih agresif. Hasilnya bisa memiliki karakter yang lebih dense, solid, aggressive, atau in-your-face. Karakter tersebut mungkin justru diinginkan dalam genre tertentu. Jadi, seorang musisi indie yang membuat master -9 LUFS bukan selalu berarti tidak memahami loudness normalization. Bisa saja ia memahami sistem tersebut tetapi memilih karakter sonik tertentu.


Dari Loudness War ke Aesthetic Loudness

Inilah perubahan konsep yang menarik. Pada Loudness War klasik: “Buat lebih keras supaya mengalahkan musik lain.” Pada era streaming: “Buat sesuai target normalization.” Sedangkan pada sebagian praktik mastering modern: “Saya tahu platform akan menurunkannya, tetapi saya tetap memilih loudness ini karena saya menyukai karakter suaranya.”

Dengan demikian, Loudness War mungkin memang melemah sebagai kompetisi volume, tetapi bukan berarti loudness sebagai keputusan artistik telah mati.

Justru pada era sekarang, kita dapat melihat pergeseran dari competitive loudness menuju aesthetic loudness.


Jadi, Apakah Musisi Indie “Tidak Patuh”?

Lebih tepat mengatakan bahwa sebagian musisi dan producer indie tidak memperlakukan target loudness sebagai aturan absolut.

Ini bukan sekadar ketidakpatuhan teknis. Ada perubahan cara berpikir: target LUFS adalah guideline untuk distribusi dan playback, sedangkan keputusan compression, limiting, dynamic range, dan loudness tetap merupakan bagian dari estetika produksi musik.

Dengan kata lain, perjalanan sejarahnya dapat diringkas:

1990-an → Loudness War semakin agresif
2000-an → Loudness War mencapai puncak
2010-an → Streaming normalization melemahkan logika “semakin keras semakin unggul”
2020-an → Loudness normalization menjadi standar, tetapi tidak menjadi hukum mastering
Sekarang → sebagian musisi memilih loudness berdasarkan estetika, bukan sekadar angka

Jadi, apakah Loudness War memang over?

Jumat, 14 Agustus 2026

Minggu, 06 Juli 2025

Mixing Audio dengan Speaker Multimedia, Kenapa Tidak?


Mixing adalah salah satu proses paling penting dalam produksi musik. Proses ini menentukan bagaimana suara dari setiap instrumen dan vokal terdengar selaras, seimbang, dan enak didengar. Banyak orang menganggap bahwa untuk melakukan mixing, dibutuhkan perangkat studio yang mahal seperti monitor studio. Namun, apakah mungkin melakukan mixing hanya dengan menggunakan speaker multimedia? Jawabannya: mungkin, asalkan Anda memahami keterbatasan dan cara mengatasinya. Berikut adalah alasan logis mengapa mixing dengan speaker multimedia bukanlah ide yang sepenuhnya buruk.

Minggu, 27 April 2025

Tips Mixing Vokal Berkualitas dengan Plugins Gratis Seperti Profesional

 

Tips Mixing Vokal Berkualitas dengan Plugins Gratis Seperti Profesional

Siapa bilang kamu butuh plugin berbayar mahal untuk menghasilkan vokal yang terdengar profesional? Dengan sedikit kreativitas dan plugin gratis yang tepat, kamu bisa mencapai hasil yang mengagumkan. Sebagai seorang mixing engineer, saya akan membagikan beberapa tips dan trik untuk membuat vokalmu terdengar lebih jernih, penuh, dan berkarakter.

Minggu, 17 November 2024

10 Hal yang Wajib Dimiliki Produser Musik Profesional di Tahun 2024

 

10 Hal yang Wajib Dimiliki Produser Musik Profesional di Tahun 2023

Kamu pasti pernah dengar tentang produser musik, kan? Mereka adalah orang-orang di balik layar yang bikin lagu-lagu hits terdengar keren dan membuat kita ingin goyang terus. Tapi tahukah kamu, apa saja yang seharusnya dimiliki oleh produser musik profesional di tahun 2024? Nah, duduk manis dan siap-siap, karena aku akan kasih tahu kamu 10 hal yang wajib mereka miliki!

Minggu, 22 September 2024

Mastering Audio: Pentingnya Menentukan Saturasi Sebelum Memikirkan LUFS

 


Buat para pecinta musik dan produser audio, pasti udah nggak asing lagi dengan istilah "mastering". Ini adalah tahap akhir dalam produksi audio yang bertujuan untuk mengoptimalkan kualitas suara dan mempersiapkannya untuk distribusi. Nah, salah satu hal yang seringkali menjadi bahan perdebatan dalam dunia mastering adalah perbandingan antara saturasi dan LUFS (Loudness Units Full Scale). Sebenarnya, mana yang harus kita prioritaskan? Yuk, kita bahas bareng-bareng!

Minggu, 25 Agustus 2024

Review Jujur Soothe 2 dari Tim Fisella: Plugins Ajaib untuk Mempermanis Resonansi Audio

 

Soothe 2: Plugins Ajaib untuk Mempermanis Mixing Audio

Sekarang ini, kita semua terbiasa dengan keajaiban teknologi dalam menghasilkan karya musik yang berkualitas tinggi. Salah satu alat yang paling banyak diperbincangkan di kalangan penggiat musik adalah Soothe 2 dari oeksound. Tidak hanya sekadar alat, Soothe 2 telah menjadi simbol revolusi dalam pengolahan suara, dengan kemampuannya untuk merapikan dan menyempurnakan suara yang paling kompleks sekalipun.

Minggu, 18 Agustus 2024

Memahami Perbedaan Antara Dynamic Equalizer dan Multiband Compressor

Memahami Perbedaan Antara Dynamic Equalizer dan Multiband Compressor

Dalam dunia produksi musik dan audio, penggunaan alat-alat pengolahan suara menjadi sangat penting untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Dua alat yang sering digunakan adalah dynamic equalizer dan multiband compressor. Meskipun keduanya dapat digunakan untuk mengubah karakteristik audio, mereka memiliki perbedaan yang signifikan dalam cara kerja dan aplikasi praktisnya.

Minggu, 04 Agustus 2024

Jangan Lakukan Mixing Audio dengan "Frequency Mixing Chart" di Internet, Ini Alasannya


Beredarnya frequency chart di internet telah menjadi semacam panduan bagi para mixing engineer, terutama bagi mereka yang baru memulai karir di dunia audio. Namun, kebenarannya masih patut dipertanyakan. Apakah memang "tools" ini sesuai dengan kebutuhan mixing, atau justru menjerumuskan para penggunanya ke dalam ketidakpastian yang lebih dalam? Mari kita eksplorasi lebih jauh.

Minggu, 14 Juli 2024

Jangan Salah Beli DAW, Ini Klasifikasi Digital Audio Workstation Berdasarkan Fungsinya

 Klasifikasi Digital Audio Workstation Berdasarkan Fungsinya

Digital Audio Workstation (DAW) adalah perangkat lunak yang digunakan untuk merekam, mengedit, dan memproduksi musik digital. DAW memungkinkan pengguna untuk merekam sumber suara, seperti vokal atau instrumen, mengedit rekaman tersebut, menambahkan efek audio, dan menyusun trek audio menjadi lagu atau komposisi. Mereka juga sering dilengkapi dengan fitur MIDI untuk bekerja dengan synthesizer dan instrumen virtual, serta fitur pengaturan untuk mixing dan mastering. Dengan DAW, pengguna dapat menciptakan musik dari awal hingga akhir, mulai dari konseptualisasi hingga distribusi.

Minggu, 09 Juni 2024

Mengenal Digital Audio Workstation (DAW): Evolusi dalam Produksi Musik dan FL Studio

 

Mengenal Digital Audio Workstation (DAW) Evolusi dalam Produksi Musik

Pada era 1980an dan 1990an, industri musik menyaksikan perubahan revolusioner dengan munculnya teknologi rekaman digital. Di masa lalu, proses perekaman suara terutama dilakukan melalui pita magnetik analog yang membatasi kemampuan produksi dan manipulasi suara. Namun, dengan kemajuan teknologi, digital audio workstation (DAW) muncul sebagai solusi modern untuk merekam, mengedit, dan menghasilkan musik secara digital.