Loudness War: 1990-an hingga 2000-an: Fenomena Loudness War sebenarnya sudah memiliki akar sebelum 1990-an, tetapi perkembangannya semakin agresif sejak awal hingga pertengahan 1990-an. Pada periode ini, CD menjadi medium utama dan teknologi digital memungkinkan mastering engineer menggunakan compression dan limiting secara jauh lebih ekstrem.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 1994, ketika Waves memperkenalkan L1 Ultramaximizer, digital brickwall limiter dengan teknologi look-ahead. Teknologi seperti ini membuat engineer dapat menekan peak kemudian menaikkan level rata-rata musik tanpa langsung menghasilkan clipping digital.
Memasuki akhir 1990-an dan terutama 2000-an, perlombaan tersebut semakin ekstrem. Penelitian yang dibahas Sound On Sound terhadap ribuan rekaman menunjukkan penurunan crest factor yang sangat jelas sejak sekitar 1990 hingga 2010, sejalan dengan meningkatnya penggunaan compression dan limiting.
Mengapa musik dibuat semakin keras? Salah satu alasannya sederhana: musik yang lebih keras dianggap lebih menarik perhatian ketika dibandingkan secara langsung. Label, musisi, dan engineer memiliki insentif untuk membuat sebuah rilisan terdengar lebih “besar”, “punchy”, dan kompetitif dibandingkan rilisan lain. Namun konsekuensinya adalah transien dapat semakin tertekan dan karakter dinamis musik berubah.
Puncak Loudness War: 2000-an
Era 2000-an sering dianggap sebagai salah satu puncak Loudness War. Salah satu contoh terkenal adalah Metallica – Death Magnetic (2008), yang menjadi simbol ekstremnya praktik loud mastering pada era tersebut. Bahkan perbandingan historis menunjukkan bahwa album tersebut memiliki dynamic range yang sangat rendah dibandingkan rilisan Metallica sebelumnya.
Dengan demikian, 1990-an hingga akhir 2000-an dapat disebut sebagai periode utama Loudness War modern.
Sekitar 2010-an: "Fenomena Loudness War Is Over?"
Memasuki 2010-an atau kira-kira 2015-2017-an di Indonesia, industri musik mengalami perubahan besar: konsumsi musik berpindah dari CD dan download menuju streaming. Platform streaming mulai menerapkan loudness normalization. Konsekuensinya sangat penting: jika sebuah master dibuat jauh lebih keras daripada master lain, platform dapat menurunkan levelnya ketika diputar.
Spotify, misalnya, saat ini menyesuaikan playback normal ke sekitar -14 dB LUFS. Yang penting, normalisasi dilakukan saat playback, bukan dengan mengubah file master yang diunggah. Perubahan ini menghilangkan sebagian keuntungan dari strategi Loudness War.
Jika master A berada di -8 LUFS dan master B di -14 LUFS, Spotify dapat menurunkan master A ketika diputar. Maka, membuat lagu lebih keras tidak otomatis membuatnya terdengar lebih keras kepada pendengar. Dari sinilah muncul pernyataan: “The Loudness War is over.” Namun sebenarnya, kalimat tersebut terlalu sederhana.
2020-an: Target -14 LUFS Bukan Hukum
Sadar atau tidak, fenomena baru yang lebih menarik muncul. Banyak orang menganggap -14 LUFS adalah aturan mastering untuk Spotify. Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Spotify memang memberikan rekomendasi untuk menargetkan -14 LUFS integrated, tetapi juga menjelaskan bahwa master yang lebih keras tetap dapat dikirim. Bahkan Spotify memberikan panduan berbeda untuk master yang lebih keras, termasuk rekomendasi menjaga True Peak di bawah -2 dB untuk mengurangi risiko distorsi tambahan ketika encoding. Akibatnya, pada era 2020-an hingga sekarang, seorang musisi dapat dengan sengaja memilih master -10, -9, atau bahkan -8 LUFS tanpa berarti ia “salah”.
Mengapa? Karena LUFS bukan satu-satunya pertimbangan artistik.
Master yang lebih keras biasanya melibatkan compression dan limiting yang lebih agresif. Hasilnya bisa memiliki karakter yang lebih dense, solid, aggressive, atau in-your-face. Karakter tersebut mungkin justru diinginkan dalam genre tertentu. Jadi, seorang musisi indie yang membuat master -9 LUFS bukan selalu berarti tidak memahami loudness normalization. Bisa saja ia memahami sistem tersebut tetapi memilih karakter sonik tertentu.
Dari Loudness War ke Aesthetic Loudness
Inilah perubahan konsep yang menarik. Pada Loudness War klasik: “Buat lebih keras supaya mengalahkan musik lain.” Pada era streaming: “Buat sesuai target normalization.” Sedangkan pada sebagian praktik mastering modern: “Saya tahu platform akan menurunkannya, tetapi saya tetap memilih loudness ini karena saya menyukai karakter suaranya.”
Dengan demikian, Loudness War mungkin memang melemah sebagai kompetisi volume, tetapi bukan berarti loudness sebagai keputusan artistik telah mati.
Justru pada era sekarang, kita dapat melihat pergeseran dari competitive loudness menuju aesthetic loudness.
Jadi, Apakah Musisi Indie “Tidak Patuh”?
Lebih tepat mengatakan bahwa sebagian musisi dan producer indie tidak memperlakukan target loudness sebagai aturan absolut.
Ini bukan sekadar ketidakpatuhan teknis. Ada perubahan cara berpikir: target LUFS adalah guideline untuk distribusi dan playback, sedangkan keputusan compression, limiting, dynamic range, dan loudness tetap merupakan bagian dari estetika produksi musik.
Dengan kata lain, perjalanan sejarahnya dapat diringkas:
1990-an → Loudness War semakin agresif
2000-an → Loudness War mencapai puncak
2010-an → Streaming normalization melemahkan logika “semakin keras semakin unggul”
2020-an → Loudness normalization menjadi standar, tetapi tidak menjadi hukum mastering
Sekarang → sebagian musisi memilih loudness berdasarkan estetika, bukan sekadar angka
Jadi, apakah Loudness War memang over?