FISELLA® MEDIANET - Artikel Musik | Media Partner Musik | Magang Musik | Music Crowdfunding Platform

Kamis, 01 Januari 2026

Pengumuman Kantor Baru Fisella®


Sehubungan dengan perkembangan layanan dan ekspansi bisnis, Fisella® di bawah naungan PT Inspira Mandala Arthaprasada mengumumkan bahwa terhitung mulai 1 Januari 2026, kantor pusat Fisella® resmi pindah lokasi ke alamat baru berikut:

Sabtu, 20 Desember 2025

FL Studio Web Version: Produksi Musik Bisa Langsung Lewat Browser

 

Image-Line kembali menarik perhatian dunia music production dengan mengumumkan FL Studio Web, versi berbasis browser dari DAW legendaris FL Studio. Melalui inovasi ini, pengguna dapat membuat musik langsung dari browser tanpa perlu menginstal software di komputer. Langkah ini dinilai sebagai upaya serius Image-Line untuk memperluas akses produksi musik, khususnya bagi pemula.

Rabu, 17 Desember 2025

Kisah Kematian Komposer Era Klasik yang Jarang Diketahui: Haydn, Mozart, dan Beethoven



Nama Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven adalah tiga pilar utama dalam sejarah musik klasik Barat. Karya-karya mereka masih dipelajari di sekolah musik, dimainkan di konser dunia, dan menjadi fondasi teori musik modern. Namun, di balik kejayaan musikal tersebut, kisah kematian para komposer klasik ini menyimpan fakta-fakta yang jarang diketahui publik.

Artikel ini membahas siapa mereka secara singkat, lalu mengungkap sisi gelap dan unik dari akhir hidup masing-masing.


1. Joseph Haydn – Komposer Besar yang Meninggal dalam Kesunyian Perang

Joseph Haydn (1732–1809) dikenal sebagai “Bapak Simfoni” dan “Bapak Kuartet Gesek”. Ia berjasa membentuk struktur musik klasik yang rapi dan sistematis. Haydn hidup lebih lama dibanding Mozart dan Beethoven, dan sempat menikmati ketenaran di Eropa.

Namun, kematian Haydn terjadi dalam situasi yang ironis. Ia meninggal dunia di Wina saat kota tersebut berada di bawah ancaman invasi pasukan Napoleon. Dalam kondisi fisik yang sudah lemah, Haydn kerap memainkan lagu kebangsaannya sendiri (Gott erhalte Franz den Kaiser) di piano sebagai bentuk penghiburan diri.

Fakta yang jarang diketahui: kepala Haydn dicuri setelah kematiannya oleh dua penggemar fanatik teori frenologi (kepercayaan bahwa kejeniusan bisa dilihat dari bentuk tengkorak). Akibatnya, jasad Haydn dimakamkan tanpa kepala selama lebih dari 100 tahun, hingga akhirnya disatukan kembali pada abad ke-20.



2. Wolfgang Amadeus Mozart – Jenius yang Dimakamkan Tanpa Nama

Wolfgang Amadeus Mozart (1756–1791) adalah simbol jenius musik sejak kecil. Ia menciptakan lebih dari 600 karya, termasuk simfoni, opera, musik kamar, dan karya sakral, dalam usia yang sangat singkat.

Mozart meninggal pada usia 35 tahun, namun penyebab kematiannya masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Catatan medis saat itu sangat minim. Beberapa teori menyebutkan demam rematik, gagal ginjal, infeksi streptokokus, bahkan teori konspirasi seperti diracun oleh Salieri—meski teori terakhir ini tidak didukung bukti kuat.

Yang jarang diketahui: Mozart dimakamkan di kuburan massal tanpa nisan. Bukan karena ia miskin ekstrem, melainkan karena kebijakan pemakaman Wina saat itu yang memang mengatur pemakaman sederhana bagi warga biasa. Akibatnya, hingga kini lokasi pasti makam Mozart tidak pernah diketahui.



3. Ludwig van Beethoven – Kematian Tragis Sang Jenius Tuli

Ludwig van Beethoven (1770–1827) adalah jembatan antara era klasik dan romantik. Ia dikenal karena keberanian musikal dan emosi mendalam dalam karyanya, meskipun mengalami tuli total di akhir hidupnya.

Beethoven meninggal setelah bertahun-tahun menderita penyakit kronis. Fakta yang jarang diketahui terungkap dari penelitian modern: rambut Beethoven mengandung kadar timbal yang sangat tinggi. Ini mengarah pada dugaan bahwa ia mengalami keracunan timbal, kemungkinan dari anggur murah atau peralatan medis pada zamannya.

Menariknya, pemakaman Beethoven dihadiri lebih dari 20.000 orang, menjadikannya salah satu pemakaman musisi terbesar di Eropa kala itu—sebuah kontras dengan penderitaan hidupnya.



Penutup

Kematian Haydn, Mozart, dan Beethoven menunjukkan bahwa kejeniusaan tidak selalu berjalan seiring dengan kehidupan yang mudah atau akhir yang damai. Kisah-kisah ini memperlihatkan sisi manusiawi para komposer klasik—rapuh, tragis, dan penuh misteri—yang sering luput dari buku teori musik.

Di balik mahakarya yang abadi, tersimpan cerita kematian yang justru membuat mereka semakin relevan hingga hari ini.

Kamis, 04 Desember 2025

Captain Hue & Friends: Animasi Lagu Anak dari Indonesia yang Layak Mendunia



Di tengah langkanya animasi anak-anak berkualitas tinggi dari Indonesia, muncul sebuah karya penuh warna dan ceria: Captain Hue & Friends. Serial animasi musik berbahasa Inggris ini memperkenalkan tujuh karakter hewan lucu — Captain Hue si bunglon, Elliot si gajah, Luna si kelinci, Momo si monyet, Toto si kura-kura, Rico si rubah, dan Sunny si anak ayam — semua tampil dalam nuansa ceria, musik riang, dan cerita ramah anak.

Senin, 20 Oktober 2025

Bingung Cara Beli Lisensi Original FL Studio? Sini Fisella Chan Bantu!

 


Masih bingung gimana cara beli lisensi original FL Studio dengan aman, mudah, dan 100% resmi? Tenang aja — sekarang kamu bisa dibantu langsung oleh Fisella®, First FL Studio Education Partner di Indonesia! Kami tahu, banyak yang masih takut salah beli, bingung pakai kartu luar negeri, atau khawatir lisensinya nggak asli. Nah, biar nggak ribet, Fisella Chan siap bantuin kamu langkah demi langkah.


Tentang Fisella®?

Fisella® adalah lembaga kursus musik asal Yogyakarta yang berfokus pada pelatihan FL Studio dan music production. Kami tercatat secara resmi di situs Image Line sebagai First FL Studio Education Partner di Indonesia, artinya Fisella® diakui langsung oleh FL Studio sebagai partner edukasinya — bukan reseller.


💡 Cara Beli Lisensi FL Studio Melalui Fisella

  1. Hubungi admin Fisella
    Kirim email ke halo@fisella.com atau chat langsung lewat WhatsApp ke 085156423270.

  2. Pilih versi FL Studio yang kamu mau
    Sampaikan ke admin apakah kamu ingin beli FL Studio Fruity Edition, Producer Edition, Signature Bundle, atau All Plugins Edition.

  3. Lakukan pembayaran melalui QRIS Fisella®
    Aman, cepat, dan langsung terkonfirmasi oleh tim kami.

  4. Tim Fisella akan bantu proses pembelianmu
    Kami akan membuatkan email baru dengan format namakamu@gmail.com khusus untuk pembelian FL Studio.
    Email ini nantinya akan menjadi milikmu sepenuhnya.

  5. Login ke Dashboard Image Line
    Setelah pembelian selesai, kamu bisa langsung login ke dashboard Image Line untuk mengunduh FL Studio original dan bahkan mengganti email serta password sesuai keinginanmu.


⚙️ Syarat & Ketentuan

Untuk bisa dibantu membeli lisensi, kamu wajib:



❓FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Q: Bisa nggak saya dikasih serial lisensinya aja?
A: Nggak bisa. Kami bukan distributor, tapi Education Partner resmi yang membantu pembelian untuk murid kami. Jadi hanya yang terdaftar sebagai murid Kursus FL Studio atau E-Course FL Studio yang bisa kita bantu.

Q: Original nggak lisensinya?
A: 100% ORIGINAL. Ingat, Fisella adalah First FL Studio Education Partner di Indonesia yang bekerja langsung dengan Image Line.

Q: Kalau saya mau beli lisensi aja tanpa ikut kursus, bisa?
A: Nggak bisa. Sesuai ketentuan Image Line, pembelian melalui education partner wajib disertai pembelajaran atau e-course.

Q: Harganya sama nggak dengan yang di website Image Line?
A: Sama persis! Jadi kamu tetap dapat harga resmi, tapi prosesnya lebih mudah dan dibantu langsung oleh tim Fisella.

Selasa, 07 Oktober 2025

Kerjasama Fisella® & Image Line Belgia: Potongan Harga Lisensi FL Studio Original Khusus Murid Fisella®



6 Oktober 2025, Fisella® sebagai Educational Partner & 1st FL Studio Training Center di Indonesia resmi bekerjasama untuk kali kedua dengan Image Line Belgia, perusahaan pengembang software Digital Audio Workstation (DAW) FL Studio. Josh Isaac, Director of Global Brand & Partner Programs FL Studio memberikan kesempatan eksklusif bagi murid kelas Music Production Fisella® untuk membeli lisensi original FL Studio dengan harga promo khusus langsung di website resmi Image Line yang disepakati bersama Peter de Vries, Founder sekaligus Education Business & Technology Development Officer Fisella®.

Jumat, 26 September 2025

Introduction “La Guittara Clasica”: Mini Konser GEMA ISI Yogyakarta




Mahasiswa gitar klasik ISI Yogyakarta  angkatan 2024 yang tergabung dalam KKM Gitar Ekstra Mahasiswa (GEMA) baru saja mengadakan mini konser bertempat di Gedung Rektorat Lama  kampus ISI Yogyakarta. Dalam konser tersebut, para pemain menampilan repertoar dalam beberapa format yakni solo, duo, dan ansambel besar. Meski terbilang cukup singkat, mini konser ini berhasil menyajikan karya-karya manis, termasuk “Batur” karya Steven Dwi Hansen, alumni GEMA ISI Yogyakarta. Antusiasme penonton pun sangat tinggi, beberapa penonton terpaksa berdiri di belakang karena kehabisan kursi. 

Tidak seperti konser lainnya, mini konser ini bertempat di ruang kelas. Bukan tanpa alasan, Ikrom sebagai pembawa acara menjelaskan bahwa pemilihan tempat di ruang lebih kecil bertujuan untuk memberi kesan intimate dan kekeluargaan. Ia pun menjelaskan bahwa tajuk konser yakni Introduction “La Guittara Clasica” dipilih karena konser ini bertujuan untuk memeperkenalkan permainan gitar klasik yang ekspresif, bukan hanya mengutamakan teknik. 



Permainan gitar yang ekspresif dibawakan salah satunya oleh Benita, mahasiswa Prodi Seni Musik. Pada konser kali ini, ia memainkan L’Ulttimo Caffe Insieme karya Simone Iannarieli. Karya ini memiliki durasi yang cukup singkat dan memiliki pengulangan. Sebagai satu-satunya pemain perempuan dalam konser ini, Nita berhasil membawakan karya ini dengan ekspresif. Melalui wawancara ia menjelaskan bahwa dirinya menikmati proses persiapan konser mulai dari latihan hingga tampil di depan penonton. Meski sempat merasa gugup di awal permainan, namun Nita sanggup mengatasinya dengan baik. Nita juga menjelaskan bahwa selama latihan, ia tidak menemukan kendala yang berarti. Nita juga tidak merasa canggung berlatih bersama teman-teman lain meski menjadi satu-satunya pemain perempuan dalam konser ini. 

Penampilan lain yang tidak kalah menarik adalah Fantasie Dramatique karya Napoleon Coste yang dibawakan oleh Yosua, mahasiswa prodi Penciptaan Musik. Karya ini memiliki durasi yang cukup lama karena terdiri dari tiga bagian dan dimainkan seluruhnya oleh Yosua. Yosua memilih repertoar ini karena Fantasie Dramatique dapat dikatakan sebagai masterpiece Napoleon Coste. Karya ini termasuk cukup sulit dimainkan, namun Yosua dapat membawakannya dengan sangat baik. Ia berhasil menguasai teknik yang diperlukan untuk memainkan karya ini. Melalui wawancara, Yosua menjelaskan butuh waktu sekitar 3-4 minggu untuk bisa memainkan karya ini. Ia juga memiliki cara latihan khusus yakni membaca dan menganalisis partitur lebih dulu sebelum memainkan repertoar dalam tempo lambat. Setelah itu, Yosua akan menaikkan tempo hingga sesuai dengan tempo asli dari repertoar. 

Secara keseluruhan, konser GEMA kali ini berlangsung dengan sangat baik. Para pemain menampilkan karya-karya dengan baik dan penonton sangat mengapresiasi hal tersebut. Konser semacam ini sangat bagus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa dan memang sudah seharusnya digelar secara rutin di kampus seni. Bukankah begitu? 


Kamis, 11 September 2025

Fisella® Merilis Maskot Resminya: Fisella Chan


Yogyakarta, 11 September 2025, Fisella® secara resmi akan merilis maskot terbarunya yang diberi nama Fisella Chan. Kehadiran maskot ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Fisella® sebagai brand edukasi musik yang terus berinovasi dan semakin dekat dengan murid serta komunitas kreatif di seluruh Indonesia.

Fisella Chan hadir bukan sekadar ilustrasi karakter, tetapi simbol semangat, kreativitas, dan dedikasi Fisella® dalam membangun ekosistem pembelajaran musik yang ramah, inspiratif, dan membumi.



Fisella Chan

Remaja perempuan berusia 15 tahun, asli Indonesia, dan cinta banget sama musik. Gadis yang selalu ceria, imajinatif, kreatif, penuh energi, dan ramah kepada siapa saja. Walaupun masih muda, aku sangat disiplin berlatih untuk mencapai cita-citaku sebagai musisi hebat.



Makna Filosofis Fisella Chan

  • Mahkota Emas
    Melambangkan kepemimpinan, kekayaan, dan kejayaan dari Fisella®. Tiga ujung mahkota merepresentasikan tiga suku kata musik Fi, Sel, dan La, sekaligus menjadi simbol tiga pendiri Fisella® yang menjadi fondasi berdirinya.

  • Rambut Coklat
    Simbol ketenangan, kestabilan, dan kedewasaan, terinspirasi dari warna pohon yang kokoh, mencerminkan bahwa Fisella® hadir dengan akar yang kuat dan membumi dalam memberikan pendidikan musik sesuai kebutuhan Bangsa Indonesia.

  • Kalung Tanpa Putus
    Menggambarkan pendidikan progresif yang tidak pernah berhenti, terus berkembang dari generasi ke generasi.

  • Liontin Kalung Angsa
    Diambil dari tunggangan Dewi Saraswati, melambangkan kebijaksanaan untuk membedakan baik dan buruk. Juga menjadi pengingat bahwa Fisella® didirikan oleh alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan semangat Dewi Saraswati yang membawa seni dan pengetahuan.

  • Kertas Kosong di Tangan Kanan
    Simbol ruang kreativitas anak yang masih putih bersih, siap diisi dengan pendidikan musik yang membentuk karakter untuk masa depan mereka.

  • Baton Konduktor
    Melambangkan logika yang terarah. Fisella® hadir sebagai pemandu, mengarahkan murid-murid agar siap berkarya dan berkarier di dunia musik.

  • Sarung Tangan & Sepatu Biru Tua
    Melambangkan profesionalisme, ketegasan, dan kepercayaan. Sarung tangan ini menjadi simbol bahwa setiap tindakan dalam pendidikan musik di Fisella® dilakukan dengan ketelitian, tanggung jawab, dan dedikasi penuh.

  • Dua Anting Treble Clef
    Menggambarkan keseimbangan antara teknik dan ekspresi dalam bermusik.

  • Baju Biru Muda
    Melambangkan kreativitas, imajinasi, dan semangat belajar yang dipahami dengan sederhana dan melekat dalam insan.

  • Kaus Kaki Putih
    Simbol kesucian, ketulusan, dan niat murni. Kaus kaki putih menjadi penegasan bahwa setiap insan harus berdiri teguh berintegritas.


Perhatian!

Dilarang menggunakan maskot Fisella Chan tanpa sepengetahuan manajemen Fisella®.
Hak cipta maskot Fisella Chan telah terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Indonesia.

Minggu, 17 Agustus 2025

Gitar Melodi dan Gitar Ritem: Pencerahan Istilah Ngawur yang Beredar di Masyarakat



Istilah "gitar melodi" dan "gitar ritem" mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, terutama bagi para penggemar musik dangdut atau mereka yang akrab dengan dunia gitar. Namun, tahukah Anda bahwa istilah-istilah ini sebenarnya ngawur dan bisa menyesatkan? Banyak yang beranggapan bahwa gitar melodi dan gitar ritem merujuk pada tipe gitar tertentu, tetapi kenyataannya, itu tidak sepenuhnya benar. Artikel ini akan membahas asal-usul istilah ini dan mengapa sebaiknya kita tidak terjebak dengan pemahaman yang salah.

Minggu, 10 Agustus 2025

Minggu, 27 Juli 2025

Fisella® Music Course: Dari Kursus Musik Private Rumahan ke Platform Home Service Music Course


Fisella® Music Course kini memasuki era baru! Berawal dari kursus musik private rumahan, Fisella® kini bertransformasi menjadi Platform Home Service Music Course yang lebih fleksibel, terstruktur, dan berkualitas. Perubahan ini bukan sekadar soal skala bisnis, tetapi juga cara mengelola dan menghadirkan pengalaman belajar musik yang lebih baik bagi murid maupun mentor.

Minggu, 20 Juli 2025

Minggu, 13 Juli 2025

Pelajari 51 Shortcuts Ini Jika Kamu FL Studio User



FL Studio adalah salah satu Digital Audio Workstation (DAW) paling populer untuk music production. Agar semakin produktif dalam membuat musik, kamu perlu menguasai berbagai shortcut yang bisa mempercepat workflow. Dengan memahami shortcut ini, kamu bisa menghemat waktu dan lebih fokus pada kreativitas.

Minggu, 06 Juli 2025

Mixing Audio dengan Speaker Multimedia, Kenapa Tidak?


Mixing adalah salah satu proses paling penting dalam produksi musik. Proses ini menentukan bagaimana suara dari setiap instrumen dan vokal terdengar selaras, seimbang, dan enak didengar. Banyak orang menganggap bahwa untuk melakukan mixing, dibutuhkan perangkat studio yang mahal seperti monitor studio. Namun, apakah mungkin melakukan mixing hanya dengan menggunakan speaker multimedia? Jawabannya: mungkin, asalkan Anda memahami keterbatasan dan cara mengatasinya. Berikut adalah alasan logis mengapa mixing dengan speaker multimedia bukanlah ide yang sepenuhnya buruk.

Minggu, 29 Juni 2025

Gitaris Profesional Wajib Pelajari 4 Jenis Notasi Ini!

 


Sebagai seorang gitaris, penguasaan notasi musik adalah fondasi yang sangat penting. Notasi musik memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan musisi lain, membaca partitur, dan mengembangkan kemampuan improvisasi. Dalam artikel ini, kita akan membahas empat jenis notasi musik yang wajib dikuasai oleh seorang gitaris profesional.

Minggu, 22 Juni 2025

Voice Over Artist Tak Akan Tergantikan oleh AI? Ini 10 Alasannya

 


Di era digital yang serba canggih, teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang, termasuk voice over. Namun, muncul pertanyaan menarik: apakah AI benar-benar bisa menggantikan voice over manusia sepenuhnya? Jawabannya adalah tidak! Ada 10 alasan kuat mengapa manusia tetap menjadi pilihan utama dalam dunia voice over. Yuk, simak alasan-alasan berikut yang mungkin akan mengejutkan Anda.

Rabu, 18 Juni 2025

Jasa Aransemen Lagu Anak dan Bikin Lagu Anak Mulai dari Rp 3 Jutaan di Fisella®


Hai Mama Papa! Sedang mencari jasa aransemen lagu anak atau ingin memesan lagu anak original dengan kualitas profesional, Fisella.com adalah solusi tepat untuk Anda. Dengan pengalaman lebih dari 5.000 karya sejak tahun 2018, Fisella® menghadirkan layanan musik dengan arranger profesional yang siap membantu mewujudkan lagu anak sesuai kebutuhan Anda.

Minggu, 15 Juni 2025

Martin Miller: Practice Doesn’t Make Perfect

 


Sebagai gitaris solo, edukator, dan content creator yang sangat dihormati, Martin Miller terkenal bukan hanya karena kemampuan bermain gitarnya yang luar biasa tetapi juga pendekatan edukasinya yang unik. Salah satu pernyataannya yang paling menarik perhatian adalah: “Practice doesn’t make perfect, perfect practice makes perfect.” Pernyataan ini memicu banyak diskusi di kalangan musisi, terutama gitaris. Lantas, apa maksud Martin Miller? Dan bagaimana hal ini berkaitan dengan konsep CAGED system yang sering ia ajarkan? Yuk, kita bahas lebih dalam!


Apa Maksud "Practice Doesn’t Make Perfect"?

Banyak dari kita mungkin pernah mendengar pepatah bahwa latihan yang terus-menerus akan membawa kesempurnaan. Namun, menurut Martin Miller, bukan sekadar berlatih yang membuatmu menjadi lebih baik, tetapi bagaimana caramu berlatih.

Miller menekankan bahwa berlatih secara sembarangan tanpa tujuan atau metode yang jelas justru dapat memperkuat kebiasaan buruk. Ini membuat kemampuanmu stagnan atau bahkan mundur. Itulah sebabnya ia mengubah pepatah klasik menjadi: “Perfect practice makes perfect.”

Apa Itu Perfect Practice?

Martin Miller menjelaskan bahwa:

  1. Fokus pada Detail
    • Ketika berlatih, jangan hanya bermain lagu atau teknik secara otomatis. Perhatikan setiap detail, seperti intonasi, dinamika, dan ritme.
  2. Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas
    • Bermain selama 8 jam sehari tidak ada gunanya jika kamu melakukannya dengan teknik yang salah. Lebih baik latihan 1 jam dengan fokus penuh dan metode yang benar.
  3. Evaluasi Diri
    • Rekam latihanmu, dengarkan hasilnya, dan cari tahu apa yang masih bisa diperbaiki.

Dengan kata lain, latihan yang sempurna adalah latihan yang terarah, penuh kesadaran, dan konsisten.


Martin Miller dan CAGED System

Salah satu kontribusi besar Martin Miller di dunia edukasi gitar adalah pendekatannya terhadap CAGED system. Sistem ini digunakan untuk memahami hubungan antara akor, skala, dan posisi di fretboard gitar. Namun, Miller sering mengkritik bahwa banyak gitaris—termasuk guru gitar—tidak benar-benar menguasai fretboard mereka.

Apa Itu CAGED System?

CAGED adalah singkatan dari lima bentuk akor dasar pada gitar:

  • C
  • A
  • G
  • E
  • D

Sistem ini membantu gitaris memahami bagaimana akor dan skala bisa dimainkan di seluruh fretboard. Secara teori, ini adalah metode yang efektif untuk memvisualisasikan fretboard.

Kritik Martin Miller terhadap Penggunaan CAGED

Miller percaya bahwa banyak gitaris hanya memahami CAGED secara dangkal. Mereka menghafal pola tanpa benar-benar memahami fungsi musiknya.

  • Menghafal Tanpa Memahami
    Banyak gitaris hanya menghafal pola CAGED tanpa mengerti bagaimana pola tersebut bisa diaplikasikan untuk bermain melodi atau improvisasi.
  • Kurang Fleksibilitas
    Jika pola ini tidak dipahami secara mendalam, pemain akan kesulitan keluar dari “kotak” (box) tertentu di fretboard. Akibatnya, permainan terdengar kaku dan terbatas.

Pendekatan Martin Miller pada CAGED

Miller mendorong gitaris untuk:

  1. Memahami Hubungan antara Akor dan Skala
    Jangan hanya hafalkan bentuknya, tapi pahami bagaimana akor tersebut terhubung dengan nada-nada di sekitarnya.
  2. Berlatih di Semua Posisi
    Jangan hanya nyaman bermain di satu atau dua posisi. Latihanlah semua posisi sehingga fretboard terasa seperti “rumah.”
  3. Gunakan secara Kreatif
    Terapkan CAGED dalam improvisasi, penciptaan melodi, dan komposisi. Jangan hanya gunakan sebagai pola latihan.

Pelajaran Penting dari Martin Miller

Dari pendekatannya terhadap perfect practice hingga kritiknya terhadap penggunaan CAGED system, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Martin Miller:

  1. Latihan yang Berkualitas Lebih Penting daripada Kuantitas
    • Berlatih dengan fokus, tujuan, dan kesadaran akan jauh lebih efektif daripada sekadar bermain berulang kali tanpa arah.
  2. Kuasa atas Fretboard Itu Penting
    • Memahami fretboard secara menyeluruh akan membuka kreativitasmu dalam bermain gitar. Jangan terpaku hanya pada pola atau posisi tertentu.
  3. Belajar Musik Itu Perjalanan Panjang
    • Tidak ada jalan pintas untuk menjadi gitaris hebat. Nikmati prosesnya, perbaiki teknikmu, dan terus eksplorasi musik.

Kesimpulan

“Practice doesn’t make perfect, perfect practice makes perfect” adalah filosofi Martin Miller yang menekankan pentingnya metode latihan yang benar. Dengan pendekatan yang terfokus dan pemahaman mendalam tentang konsep seperti CAGED system, kamu bisa menguasai fretboard dan bermain gitar dengan lebih kreatif.

Jadi, daripada hanya menghafal pola, mulailah memahami bagaimana fretboard bekerja. Terapkan prinsip perfect practice untuk mengembangkan teknik dan musikalitasmu. Karena pada akhirnya, musik bukan tentang berlatih keras, tetapi berlatih dengan cerdas.

Minggu, 08 Juni 2025

Penerapan Speed dan Power pada Tangan Kanan Saat Memetik Gitar


Penulis: Adityo Legowo

Tulisan ini merupakan hasil dari pengalaman dan pengamatan saya sejauh ini, serta diskusi bersama teman-teman dalam praktek memainkan gitar pada tangan kanan.  Sebagai pembuka saya awali dengan meminjam konsep dari bidang psikologi yangmana terdapat tiga konsep yaitu kognitif (kemampuan bernalar), afektif (berhubungan dengan emosi) dan psikomotorik (berhubungan dengan gerak jasmani/motorik/otot). Ketiga konsep tersebut bisa kita pinjam untuk memilah-milah wilayah mana yang perlu kita selidiki lebih lanjut untuk menelisik bagaimana teknik memainkan gitar pada tangan kanan.

Siapa Bilang B#, Cb, E#, dan Fb Nggak Ada? Fakta yang Jarang Diketahui

 


Banyak musisi pemula bingung ketika mendengar nama-nama nada seperti B#, Cb, E#, dan Fb. “Itu kan cuma nama lain dari C, B, F, atau E!” Meskipun benar bahwa secara suara mereka terdengar sama, secara teori musik dan frekuensi, nada-nada ini punya fungsi penting yang nggak bisa diabaikan. Yuk, kita bongkar fakta ini dari sudut teori musik hingga frekuensi dengan bahasa santai yang gampang dicerna!


Apa Itu Enharmonik?

Enharmonik adalah istilah untuk nada-nada yang kedengarannya sama tapi namanya berbeda. Misalnya:

  • B# dan C punya frekuensi yang sama tetapi konteks penggunaannya berbeda.
  • Cb dan B juga begitu: terdengar sama, tapi tetap disebut berbeda dalam notasi tertentu.

Jadi, walaupun secara fisik frekuensi mereka sama (di alat musik modern seperti piano), teori musik menggunakan nama yang berbeda untuk menyesuaikan fungsi nada tersebut dalam harmoni dan skala.


Frekuensi dalam Enharmonik

Kalau kita bicara soal frekuensi (Hz), nada-nada enharmonik seperti B# dan C memang identik dalam sistem temperamen rata (equal temperament) yang digunakan di piano modern.

  1. B# dan C

    • Frekuensi nada C4 adalah 261.63 Hz.
    • B# di sistem temperamen rata juga diatur pada 261.63 Hz.
    • Tetapi dalam sistem musik tertentu, seperti just intonation atau musik mikrotonal, B# dan C bisa memiliki frekuensi yang sedikit berbeda tergantung konteks harmoni.
  2. Cb dan B

    • Frekuensi B3 adalah 246.94 Hz.
    • Cb di piano modern juga punya frekuensi yang sama, tapi dalam konteks tertentu, Cb digunakan untuk menjaga struktur alfabet teori musik.
  3. E# dan F

    • Frekuensi F4 adalah 349.23 Hz, dan E# memiliki nilai yang sama dalam temperamen rata.
    • Dalam konteks skala mayor seperti F# mayor, E# digunakan untuk menjaga logika skala agar setiap nada punya nama sendiri.
  4. Fb dan E

    • Frekuensi E4 adalah 329.63 Hz, sama dengan Fb di piano modern.
    • Namun, di teori musik klasik, Fb muncul dalam skala seperti Cb mayor untuk mempertahankan struktur teori musik.

Kenapa Enharmonik Penting Meski Frekuensinya Sama?

Dari sudut pandang pendengaran, mungkin terasa nggak ada bedanya antara B# dan C. Tapi teori musik lebih dari sekadar apa yang terdengar. Berikut alasannya:

  1. Fungsi Harmoni dan Skala
    Dalam skala C# mayor, urutan notasinya adalah: C#, D#, E#, F#, G#, A#, B#. Kalau kita menulis “F” bukannya “E#,” urutan alfabetnya akan rusak. Jadi, meskipun frekuensinya sama, nama yang berbeda membantu memahami logika harmoni.

  2. Partitur Musik
    Dalam partitur klasik atau jazz, enharmonik sering muncul untuk mempermudah pembacaan konteks musik. Bayangkan jika sebuah akor membutuhkan B# untuk menyelesaikan progresi. Kalau kita menggantinya dengan “C,” konteks harmoni itu bisa jadi kurang jelas.

  3. Sistem Non-Temperamen Rata
    Dalam sistem seperti just intonation, frekuensi B# dan C mungkin sedikit berbeda karena perbedaan cara menyusun interval berdasarkan rasio matematika, bukan pembagian rata. Hal ini penting dalam musik orkestra, vokal klasik, atau musik tradisional tertentu.


Kesimpulan: Frekuensi Sama, Fungsi Berbeda

B#, Cb, E#, dan Fb memang terdengar sama dalam alat musik temperamen rata seperti piano. Tapi mereka tetap memiliki identitas unik dalam konteks teori musik. Dalam harmoni, skala, dan notasi, nama-nama ini memastikan musik tetap logis dan terstruktur.

Jadi, walaupun secara frekuensi mereka identik, secara fungsi musikal, mereka berbeda. Ingat, musik bukan hanya tentang apa yang kita dengar, tapi juga bagaimana kita memahami dan menyusun harmoni.

Semoga artikel ini memberikan pencerahan! Kalau kamu sering kebingungan dengan istilah seperti ini, bagikan ke teman musisimu, ya. Siapa tahu mereka juga butuh insight soal enharmonik!

Tags: Musik, Teori Musik, Enharmonik, Frekuensi Nada, Skala Musik, Partitur