Tangga nada pentatonis merupakan salah satu sistem nada yang menggunakan lima nada dalam satu oktaf. Sistem ini ditemukan dalam berbagai tradisi musik di dunia, termasuk musik etnis Indonesia, Tiongkok, Jepang, hingga musik rakyat di Eropa dan Amerika.
Namun, kesamaan jumlah nada tidak berarti bahwa semua tangga nada pentatonis memiliki susunan, interval, fungsi, dan karakter musikal yang sama. Perbedaan tangga nada pentatonis justru menjadi hal menarik untuk dipelajari karena setiap kebudayaan memiliki cara sendiri dalam menyusun dan menggunakan nada.
Apa Itu Tangga Nada Pentatonis?
Tangga nada pentatonis adalah sistem tangga nada yang terdiri atas lima nada utama. Istilah pentatonis berasal dari bahasa Yunani, yaitu pente yang berarti lima dan tonos yang berarti nada.
Dalam teori musik Barat, salah satu contoh yang paling dikenal adalah tangga nada mayor pentatonis dengan pola:
Do – Re – Mi – Sol – La – Do
Selain mayor pentatonis, terdapat pula minor pentatonis yang sering digunakan dalam musik blues, rock, dan berbagai musik populer:
La – Do – Re – Mi – Sol – La
Akan tetapi, tangga nada pentatonis dalam musik etnis tidak selalu dapat dijelaskan menggunakan pola musik Barat tersebut. Setiap tradisi memiliki sistem pelarasan, hubungan antarnada, fungsi nada, dan praktik musikal yang berbeda.
Karena itu, pentatonis tidak seharusnya dipahami hanya sebagai "tangga nada yang memiliki lima nada".
Tangga Nada Pentatonis dalam Musik Etnis Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan musik tradisional yang sangat besar. Berbagai masyarakat Nusantara mengembangkan sistem nada dan laras yang berbeda sesuai dengan kebudayaan masing-masing.
Salah satu contoh paling terkenal adalah laras slendro dalam tradisi gamelan Jawa dan Bali.
Tangga Nada Slendro
Slendro merupakan salah satu sistem laras yang menggunakan lima nada dalam satu siklus. Dalam notasi kepatihan Jawa, nada slendro umumnya ditulis:
1 – 2 – 3 – 5 – 6
Dalam pembelajaran musik Barat, nada-nada tersebut terkadang didekatkan dengan konsep do-re-mi-sol-la untuk memudahkan pemahaman. Namun, slendro tidak dapat begitu saja dianggap identik dengan tangga nada mayor pentatonis Barat.
Sistem pelarasan gamelan memiliki karakter tersendiri. Jarak antarnada tidak harus sama persis dengan interval dalam sistem temperamen sama yang umum digunakan dalam musik Barat.
Karakter bunyi slendro juga dipengaruhi oleh instrumen gamelan, cara memainkan instrumen, struktur gending, serta tradisi musikal masyarakat Jawa dan Bali.
Dengan demikian, membahas tangga nada pentatonis Indonesia tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah nadanya. Sistem laras dan konteks kebudayaannya juga perlu diperhatikan.
Pentatonis dalam Musik Sunda
Musik tradisional Sunda juga memiliki berbagai sistem laras, antara lain saléndro, pélog, dan madenda.
Saléndro merupakan salah satu laras yang menggunakan lima nada. Dalam praktiknya, sistem tersebut memiliki karakter musikal yang berkembang dalam tradisi musik Sunda.
Sementara itu, pélog memiliki struktur dan karakter yang berbeda sehingga tidak tepat apabila semua sistem laras tradisional Sunda disederhanakan menjadi satu jenis tangga nada pentatonis.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sendiri memiliki keragaman sistem nada yang sangat luas.
Tangga Nada Pentatonis dalam Musik Tiongkok
Tangga nada pentatonis juga memiliki sejarah panjang dalam musik tradisional Tiongkok.
Sistem lima nada yang terkenal dalam teori musik Tiongkok terdiri atas:
Gong – Shang – Jue – Zhi – Yu
Kelima nada tersebut sering dibandingkan dengan pola nada:
Do – Re – Mi – Sol – La
Dalam teori musik, sistem tersebut sering dikategorikan sebagai pentatonis anhemitonik, yaitu sistem pentatonis yang tidak menggunakan interval setengah nada di antara nada-nada utamanya.
Meskipun memiliki kemiripan dengan mayor pentatonis dalam musik Barat, konteks musikalnya tetap berbeda. Kelima nada tersebut memiliki fungsi dan hubungan dalam sistem musik tradisional Tiongkok yang berkembang selama berabad-abad.
Artinya, dua sistem musik dapat menghasilkan pola nada yang tampak mirip tetapi memiliki konsep musikal yang berbeda.
Tangga Nada Pentatonis Jepang
Jepang juga memiliki berbagai sistem tangga nada pentatonis yang berkembang dalam tradisi musiknya.
Dua sistem yang sering dibahas adalah yo scale dan in scale. Keduanya memiliki susunan interval yang berbeda sehingga menghasilkan karakter melodi yang berbeda.
Sistem nada tersebut dapat ditemukan dalam berbagai tradisi musik Jepang dan berhubungan dengan penggunaan instrumen tradisional seperti koto, shamisen, dan shakuhachi.
Karakter pentatonis Jepang juga tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat Jepang mengembangkan melodi, ornamentasi, teknik permainan, dan ekspresi musikal.
Dengan demikian, istilah pentatonis hanya memberikan gambaran umum mengenai jumlah nada. Detail sistem musikalnya tetap harus dilihat berdasarkan tradisi yang bersangkutan.
Tangga Nada Pentatonis dalam Musik Barat
Pentatonis juga memiliki posisi penting dalam musik Barat, terutama dalam musik folk, blues, rock, dan musik populer.
Tangga nada mayor pentatonis menggunakan pola:
Do – Re – Mi – Sol – La
Sementara itu, minor pentatonis menggunakan:
La – Do – Re – Mi – Sol
Minor pentatonis sangat populer dalam permainan gitar dan improvisasi blues maupun rock.
Perbedaannya dengan sistem pentatonis dalam musik etnis Indonesia bukan hanya terletak pada susunan nada. Musik Barat juga memiliki konsep harmoni tonal, akor, progresi akor, dan temperamen sama yang ikut menentukan bagaimana tangga nada tersebut digunakan.
Oleh sebab itu, penggunaan istilah "pentatonis" perlu selalu disertai konteks musiknya.
Apa Perbedaan Tangga Nada Pentatonis Indonesia dan Luar Negeri?
Perbedaan utama sebenarnya bukan sekadar jumlah nada. Baik musik Indonesia maupun berbagai tradisi musik luar negeri sama-sama dapat menggunakan lima nada, tetapi cara masyarakat mengorganisasikan nada tersebut dapat berbeda.
Pada musik tradisional Indonesia, sistem seperti slendro berkembang bersama perangkat gamelan, struktur gending, teknik permainan, dan konsep musikal masyarakat pendukungnya.
Sementara itu, pentatonis Tiongkok, Jepang, maupun tradisi musik Barat memiliki sejarah, instrumen, teori, dan praktik musikal masing-masing.
Perbedaan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti interval antarnada, sistem pelarasan, nada pusat, fungsi nada, instrumen yang digunakan, struktur musik, dan konteks budaya.
Inilah alasan mengapa memainkan lima nada tertentu belum tentu menghasilkan karakter musikal yang sama.
Mengapa Tangga Nada Pentatonis Terdengar Berbeda?
Salah satu kesalahpahaman dalam mempelajari tangga nada pentatonis adalah menganggap bahwa jumlah lima nada sudah cukup untuk menentukan karakter sebuah sistem musik.
Padahal, karakter musik juga dipengaruhi oleh bagaimana nada-nada tersebut dilaras dan digunakan.
Misalnya, laras slendro pada gamelan tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan mayor pentatonis pada piano modern. Piano menggunakan sistem temperamen sama, sedangkan perangkat gamelan memiliki sistem pelarasan tradisional yang memiliki karakter tersendiri.
Selain itu, musik tidak hanya terdiri atas nada. Ritme, tempo, timbre, ornamentasi, teknik permainan, struktur musikal, dan konteks budaya juga ikut membentuk identitas musik.
Karena itu, perbedaan karakter antara pentatonis Indonesia, pentatonis Tiongkok, pentatonis Jepang, dan pentatonis Barat merupakan hasil interaksi berbagai unsur musik tersebut.
Pentatonis Tidak Memiliki Satu Bentuk Universal
Keberadaan tangga nada pentatonis di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa penggunaan lima nada merupakan fenomena musikal yang sangat luas.
Indonesia memiliki berbagai sistem laras pentatonis seperti slendro dan saléndro dalam tradisi tertentu. Tiongkok memiliki sistem lima nada gong-shang-jue-zhi-yu. Jepang memiliki beberapa bentuk pentatonis seperti yo dan in. Sementara itu, musik Barat mengembangkan mayor pentatonis dan minor pentatonis yang digunakan secara luas dalam berbagai genre.
Kesamaannya adalah penggunaan lima nada. Namun, perbedaan tangga nada pentatonis terletak pada bagaimana lima nada tersebut disusun, dilaras, dimainkan, dan dimaknai dalam kebudayaan masing-masing.
Oleh karena itu, mempelajari tangga nada pentatonis sebaiknya tidak berhenti pada menghafalkan urutan nada. Pemahaman yang lebih mendalam justru muncul ketika tangga nada dipelajari bersama konteks budaya, instrumen, sistem pelarasan, dan praktik musikalnya.
Pentatonis bukanlah satu tangga nada yang memiliki bentuk sama di seluruh dunia. Pentatonis adalah sebuah kategori sistem nada yang dapat berkembang menjadi bentuk yang berbeda sesuai dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat yang menggunakannya.