Musik AI Tidak Sepenuhnya Dilarang di Australia
Hal yang sering hilang dalam pemberitaan mengenai kebijakan ini adalah perbedaan antara AI-generated music dan AI-assisted music.
ARIA secara eksplisit menyatakan bahwa rekaman yang menggunakan generative AI dalam peran pendukung masih dapat masuk chart. Syarat utamanya adalah karya tersebut harus substantially human-made, tidak memiliki persoalan manipulasi streaming atau chart, serta mematuhi hukum yang berlaku, termasuk hak cipta.
Dengan kata lain, seorang musisi masih dapat menggunakan teknologi AI dalam proses kreatifnya.
AI untuk mastering masih diperbolehkan. Pemisahan stem dengan bantuan AI juga dapat digunakan. AI drum machine, efek, sampel pendek, atau patch instrumen yang kemudian dimainkan manusia juga tidak otomatis membuat sebuah rekaman menjadi tidak memenuhi syarat.
Yang menjadi masalah adalah ketika AI mengambil alih bagian utama dari penciptaan musik.
Manusia Tetap Harus Menjadi Penggerak Utama
ARIA memberikan contoh yang cukup jelas. Lagu dengan vokal utama yang sepenuhnya dihasilkan AI dapat dianggap sebagai rekaman yang tidak memenuhi syarat. Hal yang sama berlaku jika bagian instrumental utama sebuah lagu dihasilkan oleh AI. Sebaliknya, vokal utama manusia dengan AI hanya digunakan sebagai backing vocal dapat dikategorikan sebagai AI-assisted.
Di sinilah konsep substantially human-made menjadi penting. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sebuah lagu menggunakan AI atau tidak. Hampir semua teknologi produksi musik modern sebenarnya menggunakan bentuk otomatisasi tertentu. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang sebenarnya menciptakan karya tersebut?
Jika manusia masih menjadi sumber utama keputusan kreatif, AI dapat berfungsi sebagai alat.
Jika sebagian besar keputusan kreatif diserahkan kepada mesin, statusnya berubah.
Kasus Lagu AI yang Memicu Perubahan
Kebijakan ARIA muncul setelah sebuah lagu yang menggunakan AI menjadi sorotan besar di Australia.
Cover Like a Prayer milik Madonna yang diproduksi DJ dan produser asal Queensland, Josh Fawaz, menjadi lagu yang paling banyak diputar di radio Australia pada Juli 2026 dan mencapai posisi nomor empat di dua chart ARIA. Fawaz kemudian menjelaskan bahwa AI digunakan sebagai alat dan memperbarui informasi di Spotify bahwa vokal dan drum pada rekaman tersebut dibuat menggunakan AI.
Kasus tersebut menunjukkan persoalan baru dalam industri musik: ketika pendengar tidak lagi dapat membedakan dengan mudah antara karya manusia dan karya yang sebagian besar dibuat mesin, bagaimana sebuah tangga lagu menentukan apa yang sebenarnya sedang mereka nilai? ARIA kemudian memperbarui aturan chart-nya.
Bukan Perang Melawan AI
Menurut saya, justru bagian paling menarik dari kebijakan Australia ini adalah bahwa mereka tidak mengambil posisi sederhana berupa AI buruk, manusia baik. AI tetap boleh masuk ke dalam proses produksi musik. Yang ditolak adalah ketika karya yang hampir seluruhnya dibuat mesin kemudian diperlakukan sama dengan karya yang lahir dari kreativitas manusia. Ini membuat Australia mengambil posisi yang cukup moderat: bukan anti-AI, tetapi pro-kepengarangan manusia.
Dan mungkin ini menjadi pertanyaan yang akan semakin penting dalam industri musik beberapa tahun ke depan. Bukan lagi apakah kamu menggunakan AI? Melainkan: seberapa banyak karya itu masih merupakan karya kamu?